Dan pagi ini kembali terjebak dalam pelajaran Sastra Indonesia yang akan segera digantikan oleh Matematika. Hari senin.. memulai semuanya dari awal lagi. Terkadang ini menjadi sulit, saat hari minggu terasa bebas dari rutinitas yang menggebu. Sebagai murid jurusan Bahasa, seharusnya aku bersungguh-sungguh dalam pelajaran ini. Terlepas dari itu semua ada saja hal yang membuatku ngantuk, bosan dan bahkan memilih keluar dari kelas.
Maklum, remaja labil. Mood belajar sering terpengaruh hal-hal yang (sebenarnya) tidak terlalu penting. Merajai rusuh yang kian mengeluh. Materi sastra ini berasa sama saja, terasa sangat susah saat menghadapi soal. Disela-sela berpikir tentang post kali ini, Kebon mulai melancarkan aksi meminta paksa isi pensil dari teman-teman. Gak habis pikir, di kelas ini terdiri dari berbagai macam ras dan pribadi yang kebanyakan aneh. Mulai dari Kebon yang berandalan sampai Nisrina yang galauan dan Pak Setiadi tetap saja pendiam.
Tak dipungkiri, kadang menimbulkan emosi dan konflik yang semoga tidak berkepanjangan. Seringnya, justru menimbulkan kegilaan melebihi nalar manusia normal. Dengan jumlah tidak sebanyak jurusan lain, kita dituntut untuk menekan egois lebih dalam. Menyisihkan amarah, berbagi rasa, menyeka air mata, dan menyikapi semua hal agar lebih mudah.
Rindu :")
BalasHapus