![]() |
| WAGS, tapi nggak full team. |
Beberapa faktor yang membuat kami makin baper adalah salah satu dari kami, sekarang sedang sibuk mengurus persiapan nikah institusi (calon suaminya aparat negara). Dia sepertinya usai wisuda langsung wis sah. Semoga lancar dan barokah sampai pelaksanaan, Man. Ada juga kakak tingkat yang baru saja melangsungkan pernikahan, teman yang bertemu jodoh karena sholat berjamaah di mushola, dan banyak lagi.
Laki-laki baik memang untuk perempuan baik. Bisa dibilang, di usia kami yang 20 tahun ini sudah bukan zamannya menjalin hubungan dengan lawan jenis hanya untuk main-main. Sudah bukan waktunya. Tujuan utama masih membahagiakan orang tua, insyaAllah. Mumpung masih muda ingin merintis karier, melanjutkan pendidikan, dsb itu lumrah. Tapi, kodrat sebagai wanita dan Ibu juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Toh pada akhirnya, setinggi apapun jabatan dan pendidikan perempuan, kodratnya tetap makmum dari seorang imam, tiang keluarga, serta madrasah bagi anak-anaknya.
Kami sering heboh-heboh ingin nikah muda, tapi kalau misalnya tiba-tiba ada yang melamar belum tahu harus bersikap bagaimana. Hehehe. Teman kami yang sedang mempersiapkan pernikahan itu, sebut saja Gita (biar teman-teman nanti tahu langsung kalau undangannya disebar), Gita ini pernah bilang, walau dengan bercanda, "Jodoh datang di waktu yang tepat, saat kita benar-benar siap. Caranya supaya siap, bangun sebelum subuh, selepas sholat bantu Ibu bersih-bersih rumah atau masak, berangkat kuliah. Diniatkan ibadah". Dalam bercanda dan tawanya, ada sesuatu yang saya tangkap, bangun sebelum subuh - sholat tepat waktu - beberes rumah - masak memang sudah terbiasa ia lakukan. Dan lagi, kami mengenal Gita sebagai sosok yang anggun, sabar, penyayang anak-anak, calon ibu rumah tangga yang baik dan mumpuni bangetlah. Kalau dibandingkan dengan Gita, apalah artinya saya yang masih malas, nggak bisa masak, ilmu agamanya masih cetek, masih egois, nggak sabaran, dan lain-lain.
Gita dan calon suaminya juga dipertemukan dengan cara yang tidak diduga-duga. Ceritanya ketika magang semester tiga dulu, Gita menginap di rumah Budhe, karena lebih dekat dengan sekolah tempat ia mengajar. Ibu dari calon suaminya, kita sebut saja Widhi, beliau merasa Gita akan cocok dengan Widhi yang saat itu sedang dinas di Bandung. Dikenalkan, mereka berdua merasa cocok dan tak butuh waktu lama, Widhi beserta keluarga langsung datang untuk melamar. Selama satu tahun ini mereka menjalani hubungan jarak jauh Malang-Bandung. Jodoh memang tak kemana, tak terasa pula saat ini Gita dan Widhi sedang mempersiapkan hari bahagia mereka. Allah memang Maha Romantis.
"Jodoh datang lebih awal karena dia berjuang lebih awal." - Kata Riris
Lalu tiba-tiba, saya sampai di titik sadar, apa yang saya sebut berjuang sendirian, menunggu, dan hal-hal sejenis itu bukan apa-apa. Itu bukan perjuangan. Karena sebenar-benarnya berjuang adalah memantaskan diri, mempersiapkan diri, meningkatkan kualitas diri. Meyakinkan Allah, lewat kerja akhlak dan tindak yang baik, mungkin bisa menjadi sebuah proses kepantasanku menjadi pendamping hidupmu bukan sebatas kata-kata.
Menutup tulisan kali ini dengan doa,
Semoga kita senantiasa berada dalam bimbingan Allah. Dipertemukan dengan orang yang tepat di waktu yang tepat, yang dengannya surga dan Allah terasa lebih dekat. Aamiin ya Robbal Alamin.
Wagir Sky Room
18 Januari 2016
23:47
Wagir Sky Room
18 Januari 2016
23:47

Amiiiiinnnn sukses trs mbak yanti :)
BalasHapusAamiin, suwun jegs. Dikau pun. ☺
HapusBarakallah ukh :)
BalasHapusAamiin. Jazakillah ukhti. 😄
Hapussemoga segera bertemu mba
BalasHapusAamiin yaRabb. Terima kasih doanya, Mas. :)
Hapus