Mengingat hari ini dengan senang hati.
Subuh yang terburu-buru dan ditinggal kereta. Dua mangkok soto, seporsi pecel, kopi hitam, susu jahe, dan teh hangat di meja pujasera.
Benarlah, Malang-Surabaya dibeli dengan senyuman teman. Memangnya siapa lagi yang bepergian hanya untuk membandingkan memori masa kecil dan kenyataan? Kuberi tahu, tiga perempuan menghayati perjalanan di Kebun Binatang lebih dalam dari orang kebanyakan.
Sore di antara gedung-gedung tinggi.
Laki-laki berkemeja merah muda menghabiskan teh hijau melambaikan tangan. Menyerahkan tiga kotak buah tangan sekaligus menunjukkan arah. Tatap, tawa, cerita-cerita pertama.
Lepas Isya' yang kembali buru-buru. Kereta Surabaya-Malang datang pukul tujuh lima puluh. Perjalanan singkat menuju Stasiun di bawah lampu-lampu kota. Jembatan penyeberangan yang menakutkan, napas ngos-ngosan, kaki-kaki gemetaran.
Laki-laki lain dengan janggut tipis menunggu di pintu masuk Stasiun dengan was-was. Tiga kotak buah tangan dan teriakan agar kereta tidak lagi meninggalkan si perempuan. Lari. Lari. Akhirnya duduk di kursi kereta dengan lega, lelah dan tawa di saat yang sama. Tiga perempuan dan drama.
Hari ini pula, senja di bawah langit Surabaya. Senja di bawah langit yang sama.
Lain waktu, jumpailah senja di kotaku.
30/8/2017, 01:18
tentang 29/8/2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar